Categories
Poems

Putus Asa Saja!

Impianku telah membabi buta
merajang jiwa dengan tidak sopan
dan merasuki hati tanpa basi basi
apa yang bisa diperbuat
jika waktu bermain riang dan tersesat
dan ruangpun telah tidak berdimensi.

Berdoa kata mereka,
dasar pembohong
menyembah tidak akan merubah apa-apa.

Bertindak gertak kalian,
dasar laknat
melompat kejurang adalah sia-sia.

Saat ini tolong diam
tak usah direnungi
kenangan telah membusuk bersama berhala sembah itu
retak dan tidak lama lagi akan pecah
percayalah
lihat saja.

Tembok-tembok ini tidak ada harapan
hembusan pelan akan merubuhkannya
ditopangpun sama
hanya akan membuang tenaga
coba saja.

Sudah berhentilah
buntu, tidak ada jalan
lutut ini terkunci dan
tanganpun perikat
rapat dan kencang.

Sudah bernapas sajalah
tarik pelan
hembus keluar
dan ulangi lagi
toh hanya itu yang bisa.

Sudah jangan berontak
buat apa?
jangan mikir lagi pake otak
toh isinya cuma celah dan rongga.

Sudah jangan tunggu
waktu dan ruang itu tidak ada
tidak saat ini dan dsini.

Mati?
buat apa?
percuma.

Hidup?
memangnya bisa?
silahkan saja.

Jadi?

Categories
Poems

Taman Langit

Tak ada yang seindah saat ini
berbalutkan gelap malam
mengintip rembulan yang terbelah
berkedipan dengan bintang yang memerah
inilah sedikit keindahan dunia
melihat ciptaan sang Kuasa.
Ayo duduk berdampingan
istirahatkan pundak yang basah
rebahkan diri diatas putihnya awan
tak perlu lagi berkeluh kesah
semua akan sempurna dengan adanya kau dan aku bersama.
Jangan hiraukan dia dan mereka
mereka tidak ada
disini hanya ada kita
buanglah semua kata
sunyi ini adalah nyanyian terindah
tutup matamu, dengarkanlah senandung angin
dan bersandar dipundakku.
Wahai bintang jangan cemburu
bulan akan selalu bersamamu,
dikeheningan ini
biarkan aku dan dirinya meresapi dinginnya hampaan ini
biarkan aku dan dia berpegangan tangan
dan biarkan aku dan dia berbagi kehangatan
karena hanya saat ini kami bisa merasakan damai.
Damainya kebersamaan
bersama melihat bulan yg sama
dan lihat! bintang itu tertawa kecil untuk kita
menyinari hati yang tersipu malu ini
dan bersinar dalam lindungan TAMAN LANGIT.

Oleh Abdyka Wirmon dan Sari Muliani

Image By americanpsycho

Categories
Poems

Ke-egoisan-ku

Berjuta-juta ton lava mengalir di tubuhku
mereka pikir aku tersiksa
tidak, aku bahagia.

Panasnya telah mencairkan hatiku yang beku
melelehkan rantai berkarat yang mengikat tanganku
menghancurkan beton yang menanam kedua kakiku.

Kini aku bisa berlari menujumu
kini aku bisa menyentuh kelembutan dihelai rambutmu
kini aku bisa bebas memelukmu.

Kuda-kuda liar berlari bergerombol
mereka terhenyak melihat jernihnya danau khayalan
rusa-rusa muda bertanduk panjang meneguk air cawan dunia
tertidur pulas tanpa takut diburu harimau lapar yang kehilangan cinta.

Engkau pikir aku ini bodoh
berkhayal tentang rimba yang merah muda
engkau pikir aku ini patung
duduk diam dan tersenyum menikmati pipimu yang memerah.

Kita manusia budak
punggung ini penuh torehan kasih sayang
pipi ini memar oleh ciuman terima kasih
kaki ini melepuh oleh langkah-langkah bersama
mata ini buram oleh indahnya dirimu
haus ini adalah keinginan
lapar ini adalah rindu
lepaskan aku dari segala penyiksaan ini.

Tidakkah engkau berpikir untuk menengok kebelakang
ada bayangmu dan doaku mengikutimu
tidakkah engkau berpikir untuk melihat langit
ada bintang dan harapanku mendukungmu
tidakkah engkau berpikir untuk menoleh
ada pepohan hijau dan kehati-hatianku menjagamu
tidakkah engkau berpikir untuk merenung
ada rumput berembun dan saranku menuntunmu.

Maafkan aku jika menemanimu hingga larut malam
maafkan aku jika menunggumu pulang
maafkan aku jika datang terlambat.

Kita ini benar-benar payah
kamu masih ragu-ragu
aku sudah percaya.

PS: Dedikasi untuk sahabatku yang sangat baik.

Image by Marcus74id