Sofa Biru dan Sepotong Ingatan 2

Sudah ratusan kali aku ke tempat ini. Selalu seperti ini, rak-rak kayu yang berjejer rapi, sofa biru empuk dan lantunan musik Jazz. Aku bisa mencium bau kertas yang lembut setiap masuk ke tempat ini, toko buku favoritku. Toko ini terletak di pinggiran kota, koleksinya lengkap, pelayannya adalah sahabat yang selalu tersenyum dan akan menawarkan teh hijau hangat kepada setiap langganannya. Toko ini tidak pernah ramai oleh pengunjung tapi mereka punya pelanggan setia yang selalu datang tiap minggu untuk membeli atau hanya bersantai bersama koleksi buku sambil menikmati keheningan yang ramah.
Aku hempaskan tubuhku di sofa biru yang di pojok, ini tempatku dan aku selalu di sini. Aku menyukai sofa ini karena mengingatkanku pada masa kecil. Masa kecil yang indah bersama majalah anak-anak kesayanganku. Pelayan menawarkan kopi dan teh (“seperti biasa, Siska!”). Aku tersenyum, dan dia mengerti maksudku: teh hijau hangat di cangkir bambu.  Aku ingin menikmati sore ini bersama buku tebal yang tidak akan pernah puas aku baca, Dunia Sophie. Musik Jazz berganti dengan suara lembut Egna.
Sore ini hanya ada beberapa pengunjung, sepasang suami-istri yang sedang berdebat memilih buku anak-anak, beberapa orang mahasiswa berkemeja putih yang sedang bersila di antara rak buku hukum dan akuntansi, dan seorang gadis bergaun biru muda, kira-kira berumur 20an. Aku tidak terlalu handal menebak umur tapi gadis ini masih muda dan keliatan sangat anggun, dengan kibasan rambut panjangnya. Dan aku menatapnya. Kulihat langkahnya yang begitu lembut, tatapannya terhadap kertas-kertas di rak-rak tersebut adalah tatapan cinta. Dia menyentuh pinggiran buku dengan hati-hati, seolah buku tersebut seperti bayi yang baru lahir, begitu lemah dan mempesona. Dia tersenyum dan tidak jarang tersipu malu setiap melintasi beberapa buku sastra klasik. Dan pada saat itu pandangannya teralih dan menoleh kepadaku, serentak semua senyumnya hilang. Aku terkejut.
Aku berusaha untuk tersenyum, namun tidak berhasil dengan baik. Hanya membuat bibirku tersinggung beberapa senti dengan cara yang aneh. Akhirnya aku hanya diam menatapnya, mata kami bertemu dan aku mengangguk sedikit. Ada sebuah dorongan untuk menyapanya, namun sebelum kata itu terucap dari lidahku, tiba-tiba tangannya terangkat, jari telunjuknya menempel di bibir merah jambu itu. Dia menyuruhku diam, bahkan sebelum aku sempat berkata apa-apa. Akupun diam dan dia mengangguk pelan, tersenyum dan melangkah keluar, berbelok dan hilang di ujung koridor.

Setelah kepergiannya, aku masih termenung di pojokan ini. Pikiranku melayang ke peristiwa beberapa detik yang lalu itu. Aku tidak mengenalnya, kenapa dia menyuruhku diam, kenapa dia pergi, semua pertanyaan serempak masuk ke pikiranku dan aku tidak tahu jawaban atas semua hal itu.
Siska datang membawakan teh hijauku. Aku terkejut dan dengan canggung aku menjatuhkan buku yang sedang aku baca. “Cantik yah?” Siska bertanya saat aku berusaha menjangkau buku yang terselip di bawah sofa. “Hah?” Aku masih tidak sadar dengan pertanyaannya.
“Itu lho, perempuan yang tadi.” Siska duduk di sampingku.
“Oh, itu. Yah, lumayanlah!” Aku tidak biasa dengan pertanyaan seperti ini.
“Dah jujur aja, Mas,” goda Siska sambil tersenyum-senyum.
“Hhmmm.. kamu kenal dia, Sis?”
“Nggak juga, tapi hampir seminggu ini dia datang terus tiap sore. Aku pikir dia sedikit aneh. Dia hanya datang, memutar di rak-rak itu dan pergi. Tidak pernah membeli ataupun memesan minuman. Jarang ada pelanggan seperti itu.” Siska menjelaskan sambil berkutat dengan BB-nya.
“Aneh yah, tapi kalau tidak pernah membeli itu namanya bukan pelanggan, tapi hanya pengunjung,” sahutku.
“Iya yah, lama-lama tempat ini bukan lagi toko buku, tapi museum!” Siska beranjak pergi dan meninggalkan BB-nya di atas meja.
Aku biasanya bisa berlama-lama di tempat ini, namun tidak hari ini. Setelah melihat pemandangan aneh tadi perasaanku menjadi tidak enak, dada ini terasa sesak. Aku habiskan minumanku dalam sekali teguk dan melangkah keluar. Aku melihat Siska sedang menggeledah isi tas dan laci meja kasir seperti mencari sesuatu, sambil lalu aku berkata padanya: “barang yang kamu cari ada diatas mejaku tadi.”
“Oh ya…” Siska berlari kecil dan mencium BB-nya. Ini pemandangan yang wajar untuk zaman ini. Di mana sebuah barang kecil yang telah berubah menjadi barang pokok penunjang kehidupan. Membuatku miris.
Ternyata pulang ke kamar yang kusam ini tidak membuat perasaanku lebih baik. Kubanting pintu kamar mandi dan terkejut melihat bayanganku sendiri. Kulihat diriku di cermin. Masih seperti dulu: kurus, berjerawat, mataku cekung dan rambut berminyak yang tidak pernah disisir. Kutatap mataku sendiri di cermin. “Ini mata yang kosong” pikirku. Pantas saja dia menyuruhku diam. Tidak ada kata yang berguna akan keluar dari orang yang pandangannya kosong seperti ini.
Besoknya aku kembali ke toko buku itu. Bukan karena tidak ada kerjaan, tapi lebih karena penasaran oleh perempuan yang kutemui kemarin.  Aku berharap dia datang lagi hari ini. Dan ternyata memang benar, saat kumasuki ruangan itu dia telah duduk di tempat aku biasa duduk, di sofa biru di pojok kanan, tepat di sebelah jendela besar yang menghadap ke halaman belakang toko buku ini. Dia menatapku dan menggeser posisi duduknya ke ujung sofa seakan memberi ruang untukku agar duduk di sebelahnya. Aku tidak terlalu yakin dengan isyarat yang dia berikan sampai dia mengangguk kecil dan tersenyum. Aku pun menghampirinya.
“Hai!” Sapaku sambil duduk dengan canggung di ujung sofa. Namun dia tidak menjawab. Dia hanya manatapku dengan dalam.
“Aku biasa duduk di sofa ini. Dulu aku punya sofa persis seperti ini di rumahku,” aku menerangkan padanya. Aku tidak tahu kenapa aku malah membicarakan sofa dan masa kecilku pada orang yang bersikap aneh ini.
“Iya. Ini sofa standar rumahan. Dulu model ini diproduksi oleh hampir semua produsen mebel,” dia berkata dengan santai seolah-olah aku dan dia adalah teman lama.
“Kamu keliatannya tahu banyak tentang sofa. Apakah kamu sales mebel atau pemerhati sofa?” aku bukan orang yang serius. Tapi aku juga tidak pintar dalam membuat guyonan. Aku merasa bodoh sekali.
“Oh tidak, aku bukan sales mebel. Tapi aku sadar kamu punya banyak kenangan dengan sofa-sofa seperti ini. Iya kan, Gen?” dia berkata sambil mengaduk-ngaduk tehnya dengan sedotan.
Aku terkejut setengah mati. Darimana dia bisa tahu namaku. Dia bahkan tahu bahwa sofa inilah yang membuatku betah dan selalu datang ke tempat ini.
“Hmm.. seperti kamu masih belum sadar yah? Kamu keliatan terkejut sekali dengan apa yang aku ketahui tentang dirimu.” Dia sadar dengan keterkejutanku dan dia memperbaiki posisi duduknya dan kembali berkata: “Gen, kamu pasti bertanya siapa aku. Aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanya kepingan kecil dari masa lalumu, dan aku sengaja datang ke tempat ini setiap hari hanya karena ingin bertemu denganmu.”
“Kamu siapa? Kenapa kamu bisa tahu aku suka datang ke tempat ini?” Aku berusaha tenang dan mengumpul semua hal dari masa lalu yang bisa menghubungkan aku dengan perempuan ini.
“Kamu tidak semakin cerdas yah. Sangat gampang menemukanmu, Gen!” Dia berkata sambil tertawa ringan.
“Iya, aku sadar dalam beberapa hal aku ini sangat bodoh. Jadi, kenapa kamu bisa tahu aku akan datang ke sini?”
“Toko buku yang sepi, teh hijau hangat, dan sofa biru ini, semua hal ini adalah petunjuk yang jelas, Gen.” Dia menolehkan pandangannya mengitari seolah-olah diriku tercermin bersama tempat ini.
“Jadi, kamu siapa? Aku tidak ingat pernah kenal dengan kamu!” Dan memang benar, toko buku dan teh hijau adalah kesukaanku, namun sofa biru, tidak ada yang tahu dengan hal itu. Aku pasti pernah mengenalnya, tapi aku tidak tahu kapan dan di mana.
“Kamu kelihatan sangat kosong dan bingung, Gen.” Dia berdiri dan merangkul tasnya.
“Maksudmu?”
“Kamu tahu maksudku.” Dia melangkah mengitari sofa dan melangkah keluar.
“Hei.. kamu meninggalkan sesuatu di sini!” Aku bangkit dan menjijing sebuah tas kertas yang ia tinggalkan di sebelah meja.
“Aku tidak meninggalkan apa-apa. Itu milik kamu!” Sebuah senyum tipis mengakhiri katanya tersebut. Dia melangkah pergi
Aku memeriksa isi tas kertas ini dan ternyata berisi sebuah bingkisan dan sepucuk surat dengan amplop hijau bergambarkan burung kakaktua. Aku tidak suka dengan misteri dan hal-hal yang tidak aku mengerti. Namun begitulah aku sekarang, di sini sendiri dengan sebuah bingkisan, surat dan berjuta pertanyaan.
Aku kembali duduk. Aku buka bingkisan itu dengan setengah hati. Ternyata isinya sebuah buku. Winnie The Pooh. Aku tidak mengerti maksudnya apa. Apa hubungan masa laluku dengan buku anak-anak ini? Semakin lama, semua ini makin membuatku kesal. Jadi aku baca sedikit buku ini. Tidak ada yang istimewa, hanya cerita anak-anak dengan beruang madu sebagai tokohnya. Aku lempar buku itu ke dalam ranselku.
Dengan perasaan masih kacau, aku membuka surat itu, dengan harapan mungkin isi suratnya adalah sebuah kebenaran. Sejak kemarin aku merasa dipercundangi dan dibodohi. Ini sungguh tidak adil! Seseorang memiliki potongan dari masa laluku, dan aku tidak tahu sedikit pun tentang dia. Masa laluku seperti sebuah buku. Siapapun bisa membacanya. Di surat itu tertulis:
Hai Gen, 
Aku baru bangun tidur saat menulis ini dan semalam aku bermimpi tentangmu, bersama beruang Pooh kita bermain dihutan, mimpi yang menyenangkan.Mungkin karena kemarin aku berhasil menemukanmu di toko buku itu. Aku sengaja pergi saat tatapan kita bertemu dan aku tidak mau mendengar suaramu. Aku takut kehilangan kenangan tentang suara kecilmu dulu. Maaf jika aku menyuruhmu untuk diam.
Sore ini aku putuskan ke toko buku itu lagi, aku yakin disana aku akan bertemu denganmu lagi. Aku yakin, aku tahu siapa kamu.
Nb: kamu kurusan.
Dia melampirkan sebuah alamat e-mail, dan sebuah ungkapan dari buku Winnie The Pooh “You can’t stay in your corner of the Forest waiting for others to come to you. You have to go to them sometimes.”
Satu hal yang pasti, dia adalah teman masa kecilku. Dan dari ungkapan tersebut dia ingin aku menyuratinya ke alamat itu. Aku bingung. Apakah aku harus membalas atau tidak. Aku tidak tahu.
Kebingungan itu sesuatu yang baik, karena dengan bingung berarti kita menghadapi sebuah keraguan. Keraguan akan membuat kita bertanya, dan siapa yang bertanya pasti akan mendapatkan jawabannya. Namun kali ini aku takut akan jawaban yang akan aku terima.
Entah kenapa saat ini aku merasa sangat takut, aku tidak takut bertemu dengannya, namun aku takut berhadapan dengan masa laluku. Ini perasaan yang aneh, masa lalu yang seharusnya menjadi kenangan yang indah dan penuh kehangatan tiba-tiba saja menjadi sebuah monster di masa depan. Dan sekarang aku harus berhadapan dengannya.
Setiba di rumah, aku langsung menyalakan laptopku. Aku harus menghadapi semua ini. Aku masukkan alamat e-mailnya dan menulis: “Terima kasih bukunya, tapi satu hal aku tidak suka beruang madu. bahkan aku takut dengan mereka”. Aku tekan tombol ‘kirim’ dengan judul surat “aku tidak ingat kamu”.
Tidak lama berselang sebuah email baru masuk, dia membalas emailku.
“Tentu saja kamu tidak ingat aku, aku adalah kepingan ingatan yang telah kamu hilangkan. Aku pun tahu kamu tidak suka beruang, dari dulu memang begitu,kan? Aku ingat dulu kita sering bermain disofa biru dirumahmu, kita berlomba menghabiskan es krim atau cemilan yang dibuat oleh ibumu.Apakah ibumu masih sering membuat cemilan seperti dulu? Aku harap iya. Ibumu sangat berbakat didapur. Aku dulu berharap aku bisa punya ibu seperti dia, namun kadang Tuhan sering berkata lain. Nasib kita berbeda”.
Ini membuatku lebih takut, aku membalas e-mailnya.
“Bagaimana mungkin ingatan aku hilangkan?Aku mungkin lupa, tapi tak mungkin hilang, Ingatan itu adalah diriku dan milikku. Kamu mungkin telah mencurinya.Katakan saja dengan jelas dan singkat, siapa dirimu?”
Aku menunggu balasannya dengan perasaan cemas dan takut. Mungkin saja benar, dia telah mencuri sebagian dari masa kecilku.
Dia membalas lagi. “Aku adalah potongan dari dirimu yang hilang, Gen”
Dengan perasaan bingung aku membalas. “Jika memang begitu, kembalikan potongan itu dan buat diriku lengkap kembali”
Karena haus aku beranjak ke dapur. Kuambil beberapa kaleng bir dari kulkas, sisa dari nonton bola beberapa hari yang lalu. Aku meneguknya dengan tergesa-gesa, sehingga aku tersedak. Aku kembali ke mengecek e-mailku dan ternyata dia sudah membalas lagi.
“Aku akan senang bisa membuat diri lengkap lagi, Gen. Namun dengan sebuah syarat.”
“Syaratnya apa?” Aku balas dengan singkat. Sebuah perasaan panas dan menggelora menerjang tubuhku. Sebuah perasaan yang sudah lama tidak aku rasakan. Cinta. Kenapa aku merasa jatuh cinta pada saat seperti ini. Ini mustahil pikirku. Hati dan pikiranku sudah tidak lagi sejalan. Aku sudah gila.
“Kriingg.. krinngg”.. Teleponku berdering. Aku terkejut. Aku biarkan telepon itu berdering beberapa saat, aku sedang tidak ingin bicara dengan siapa-siapa. Jadi aku biarkan saja. Aku kembali menatap kosong ke layar laptopku, namun sekali lagi telepon berdering. Dengan perasaan dongkol aku angkat telpon tersebut.
“Ya?” Aku berharap kali ini panggilan salah sambung.
“Sewot banget, Gen?” Ternyata perempuan itu.
“Kok kamu bisa tahu nomortelponku?” Aku masih shock.
“Kamu lupa ya?Aku ini bagian dari diri kamu, aku tahu semua hal tentang kamu”Dia bicara dengan ringan.
“Baiklah.Jadi apa syaratnya agar diriku bisa lengkap lagi?”
“Kamu harus hidup bersamaku? Mau?”
“Hah? Maksudmu…..” Aku kaget dengan apa yang baru aku dengar, ini tidak mungkin nyata.
“Gimana, Gen?”
“Kamu serius?”
“Iya.Kita adalah sebuah kesatuan yang terpotong oleh masa lalu.Potongan itu harus disatukan lagi.Jika kamu sependapat denganku, hampiri aku,” dia berkata dengan sangat tenang.
“Tapi aku tidak tahu kamu ada dimana.”
“Dengarkan nyanyian angin dengan hatimu.” Dia menutup telponnya.
Untuk beberapa saat aku termenung. Aku mencoba meraba semua hal yang terjadi dalam dua hari ini. Dan untuk pertama kalinya semua keraguanku dan kebingunganku hilang tidak berjejak. Aku melangkah keluar rumah. Aku tidak tahu kenapa akan pergi. Namun satu hal yang pasti aku sadar tujuan dari langkah ini.

Ilustrasi: musthavemenus.com
————————————————————
Cerpen ini juga dimuat di VHRmedia :

Sofa Biru dan Sepotong Ingatan 


Sofa Biru dan Sepotong Ingatan (Bag Ke-2, Tamat)

2 thoughts on “Sofa Biru dan Sepotong Ingatan

  1. Reply sapidudunk Jul 8,2010 2:02 pm

    ini udah tamat ya..? ending nya gimana..?? hihihi.. salam kenal.. 🙂

  2. Reply Dyka Jul 11,2010 3:37 am

    iya, tamatnya gmn yah?? pilih sendiri deh endingnya 😛

    btw salam kenal juga 🙂

Leave a Reply